mega888 PERAN PEREMPUAN DAN REFLEKSI KEMERDEKAAN – HmI Komisariat Kedokteran Gigi

PERAN PEREMPUAN DAN REFLEKSI KEMERDEKAAN

Setiap tanggal 17 Agustus merupakan tanggal yang ditunggu-tunggu karena merupakan momen yang paling bersejarah bagi Republik Indonesia yang diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan bagian dari rangkaian panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya. Hal itu disebabkan karena kemerdekaan Indonesia tidak didapat sebagai hadiah dari bangsa lain. Kemerdekaan Indonesia melalui Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah hasil perjuangan panjang bangsa Indonesia untuk menuntut kemerdekaannya lepas dari belenggu penjajahan bangsa asing.

Merdeka merupakan sebuah rasa kebebasan bagi makhluk hidup untuk mendapatkan hak dalam berbuat sekehendaknya. Kemerdekaan dalam maknanya yang sejati dan luas adalah situasi batin yang terlepas dari segala rasa yang menghimpit, menekan dan menderitakan jiwa, pikiran dan gerak manusia baik yang datang dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Kemerdekaan adalah sesuatu yang asasi dan yang melekat dalam diri setiap manusia, apapun latar belakang sosial, budaya, politik, jenis kelamin, agama, keyakinan, warna kulit, dan kebangsaannya. Kemerdekaan adalah esensi kemanusiaan itu sendiri karena itu tidak dapat dan tidak boleh dirampas atau dicabut oleh siapapun. Oleh sebab itu, segala bentuk kebudayaan, peradaban, dan setiap sistem kehidupan yang menghalangi, membatasi, yang memenjarakan, dan memperbudak manusia harus dihapuskan dan dilenyapkan dari muka bumi Indonesia, karena tidak sesuai dengan hakikat manusia.

Peran perempuan dalam rangka mengisi kemerdekaan dan pembangunan sangat dibutuhkan. Hal itu dibuktikan dengan adanya peranan perempuan dalam merebut kemerdekaan dan pembangunan bangsa yang sudah dimulai sejak lama. Menurut Cokrowinoto dkk, (198: 27) bahwa dalam sejarah pergerakan nasional disebutkan dalam usaha mencapai kemerdekaan negara dan bangsanya, kaum wanita melakukan kerjasama dengan kaum pria. Prinsip kerjasama itu tetap dipegang dan dapat dibuktikan pada waktu perang kemerdekaan dan pada masa pembangunan nasional. Sejak awal abad ke-19, beberapa wanita Indonesia telah tampil dipanggung sejarah secara perorangan dalam membela tanah air dan bangsanya, misalnya Nyi Ageng Serang XIX, Christina Martha Tiahahu (1817-1819), Cut Nyak Dien (1873-1904), R.A. Kartini (1879- 1904), Dewi Sartika (1884-1947), Maria Walanda Maramis (1872-1924), dan juga Nyai Ahmad Dahlan (1872-1936).
Kaum perempuan mempunyai peran dalam merebut kemerdekaan untuk mewujudkan negara Indonesia yang bersatu, aman, tentram dan damai. Perempuan memiliki peranan yang penting dalam membangun semangat kemerdekaan dengan senantiasa meningkatkan kesetaraan dan harkat wanita di masa pergerakan kemerdekaan serta membuka peluang pendidikan bagi para wanita, dan juga menyatukan dan meningkatkan kerjasama dari perempuan dari berbagai latar belakang suku dan agama.

REFERENSI:
1. Fitri A. Kemerdekaan yang sesungguhnya. Acessed on 4 Agustus 2022. [Internet]. http://www.arsip.pa-manna.go.id/wp-content/uploads/2015/08/Kemerdekaan-Yang-Sesungguhnya.pdf
2. Sondarika W. Peranan wanita dalam perjuangan kemerdekaan indonesia masa pendudukan jepang. Jurnal Historia 2017;5(2):207-17
3. Ohorella GA, Sutjiatiningsih S, Ibrahim M. Peranan wanita indonesia dalam masa pergerakan nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1992.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *